Minggu, 04 November 2018

PUISI: Sajak dari Sepasang Mata Malam

Oleh: Alya Dewi Pritania




Lihat simpang jalanan samping kota
Ada mata - mata yang begitu memikat, begitu mempesona
Sahabatku, saksikanlah
Dengan begitu, habis perkara


Mari terbuai bersama
Diiringi musik gamelan dari ayah
Diiringi kidungan indah dari bunda
Atas semasa hidup menghayati cinta budaya



Bukankah satu frasa cukup mewakilinya
Yang Termulia
Ah, aku rasa aku lupa
Para mata malam sudah biasa menyeruputnya


Hasil perjuangan yang mengharumkan sejarah
Tak lantas kita buang di halaman rumah
Hai, para mata, kita tinggal memilih
Jalan mana yang lebih jernih



Mari mencium tangan Bung Karno
Sembari memanjatkan hidup memohon Ridho
Jikalau Ia bertanya, sudah belajar apa
Sahutlah, hai para mata, hidup lebih lama!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar