Kamis, 15 Maret 2018

SATU MENIT, SATU DETIK

Untuk sebuah nama yang senantiasa hadir dalam bait doa, semoga engkaulah yang tertulis di Lauhul Mahfuzh untuk menemani hari-hariku hingga menuju jannah-Nya.

||

Embun fajar
Di tetes ketiga
Sepasang kening mengeja makna
Tenggara dan utara
Menemu jua pada satu kiblat
Di sebelah barat
Akankah sama pula tersebut nama?
Dari dazzling bibir kita

Menyeru doa
Agar ‘nyatu menjadi milik berdua
Qabul di bawah mihrab cinta-Nya
Di bawah nabastala, 2018
Magenta langit tenggara

“Ya ampun, Ta. Ini kali ke-33 si Embun Fajar nangkring sebagai juara 1 Mading Literasi kampus kita.”

Kanaya memulai jam istirahat  dengan teriakan-teriakan gajenya. Yah, baru saja memang ada sesi pembacaan puisi dari program radio kampus “Rahawasi – Suara Hati Lewat Puisi”. Biasanya yang dibaca adalah puisi-puisi kiriman mahasiswa dan pendengar luar yang mengirim via e-mail. Dan, puisi pembukanya adalah karya yang menjadi juara 1 dalam event puisi mingguan Mading Literasi---yang kali ini, lagi, adalah karyaku.

“Sama seperti jumlah butir tasbih,” gumamku.

“Apaan, Ta?”

“Eh, nggak papa.”

“Ayolah, Ta. Ini udah ke-33 kali aku nanya. Siapa, sih, Tuan Embun Fajar yang selalu ada di puisimu itu? Masih nggak mau ngasih tau?”

Aku tersenyum, lalu menggeleng.
“Aku saja masih tak tahu siapa nama asli dari pemilik buku yang di bagian halaman depannya tertulis ‘Embun Fajar’ itu.”
“Tapi kamu, kan, tahu orangnya. Tunjukin, deh, pasti aku kenal.”

Aku menggeleng lagi.

“Ckkk. Udah mau setahun, Ta. Masa, sih, kamu ga pernah papasan sama dia? Atau, kamu, kan punya nomor handphone-nya dari buku itu, kan?”
“Punya, sih.”

“Pasti nggak pernah kamu coba ngehubungin dia, kan?”

Aku mengangguk. Aku memang tak pernah berusaha menghubunginya karena kupikir itu tak perlu. Lagipula untuk apa? Apa yang akan kukatakan?
“Assalamu’alaikum.”

Sebuah suara dari balik punggungku itu tiba-tiba membuat dadaku berdetak kencang. Suara itu ... Aku sontak menoleh, wajah berwibawa itu menatap teduh. Tubuhku mematung saat menatap pemilik suara lembut itu.

“Wa’alaikum ... salam.” Aku tergeragap.

“Boleh kita bicara sebentar?”
Ia menunduk, menghindari bertatapan mata denganku.

“Boleh. Tapi ....”

“Temanmu tak apa jika ia ada di sini, jika itu yang membuatmu ....”

“Ta, aku akan duduk di kursi itu selagi kalian bicara. Tidak terlampau jauh, kok,” ujar Kanaya seolah memahami posisi kami. Ia berjalan ke arah kursi di gazebo sebelah yang berjarak hanya sekitar 4 meter.

Lelaki itu tampak berdiri memandangi danau buatan di sebelah tenggara gazebo kampus dengan kedua tangan di dalam saku.

“Apakah Embun Fajar dalam puisi-puisi yang kau tulis itu adalah aku?” Sebuah pertanyaan mengejutkan tanpa aba-aba itu terdengar lirih dan hati-hati. “Maafkan aku. Aku hanya ingin memastikan secara langsung. Aku tahu, ada begitu banyak pemuisi yang memakai dua kata itu dalam puisi mereka, dan ada banyak orang yang menyukai atau menggunakan nama itu.”
Aku menghela napas. “Apakah kau ... marah?”

“Marah? Marah yang bagaimana? Bisakah aku marah sedangkan hatiku malah bersikap aneh?”

Aku menoleh sejenak, lalu menunduk dan menunggu ia melanjutkan kata-katanya. Ada getar yang sejak tadi tak henti berdenyar ketika perlahan aku menyadari makna di balik ucapannya.

Aku tersenyum, lalu mengangkat kepala dan kutemukan sisi kiri wajah bercahayanya. Astaghfirullah, apa ini? Aku mengumbar mataku demi menatap keindahan yang bahkan belum boleh kunikmati.

“Jika memandangmu bukanlah dosa, aku akan terus saja menatapmu. Jika rindu yang kumiliki ini boleh kuumbar, tak ada sedetik pun waktuku yang tak merinduimu. Sejak awal, satu menit pertemuan kita kala kau mengembalikan bukuku yang terjatuh itu, aku mulai limbung. Seringkali aku mengetik pesan untukmu, lalu kuhapus kembali.

Kubatalkan niatku untuk mengetahui segala tentangmu dengan cara yang tak Allah sukai.”

Ia berhenti sejenak, “Aku menahan semuanya dan baru kukatakan saat ini.

Sesaat setelah aku membaca puisi-puisimu dan menemukan bahwa doa adalah cara terbaik merayu Sang Pencipta. Menemukan kita lewat jalan yang terbaik.”

Sekali waktu, kurasa ribuan kupu-kupu berkepak di dalam nadiku. Memompa darah hingga kurasa bahagia yang sedemikian purna. Allah, inikah cinta?
Ia tampak berbalik menghadapku dan tersenyum.

“Bolehkah aku memegang puncak kepalamu?”

“Untuk ... apa?”

“Hanya sedetik, setelah itu kau akan tahu.”

Aku menunduk lebih dalam, memejamkan mata, lalu mengangguk perlahan. Sesaat kemudian, kurasakan kehangatan mengalir dari puncak kepalaku, menjalar ke seluruh tubuh, dan memusat di dadaku.

“Magenta Langit Tenggara, aku akan datang ke rumahmu, menyampaikan pada orang tuamu. Tunggu aku, ba’da maghrib hari Kamis, tujuh hari dari sekarang.”

Ia meninggalkanku setelah mengucapkan salam dan memberiku secarik kertas. Taura Hizazul Fikri. Kuraba dadaku lalu berlari dan memeluk Kanaya.

Ia memelukku erat, seolah tahu dan mendengar segala yang baru saja terjadi.

Aku bersimpuh, membenamkan wajahku di lantai gazebo dan bersujud syukur dengan kebahagiaan yang mengalir hari ini.

“Maha suci Engkau yang menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan.”

***

Sanur, 2018
Sebuah cerita yang tertulis dalam Antologi Ambisi Penulis

Penulis: Wiwit Estu Nur Rinjani Putri
DIV. Kepenulisan FLP Prabumulih

Tidak ada komentar:

Posting Komentar