Senin, 05 Maret 2018

Riwayat Tugu Serangan Balas




Riwayat Tugu Serangan Balas



Bagai tamu tak tahu malu
Diperlakukan baik mengijak martabat
Diberi kamar meminta rumah
Diberi tanah merampas Negara

Telah diusir datang kembali
Dikiranya mudah menguasai lagi
Akibat tanah tercinta dirampas lagi
Deangan bombardir mengalir darh pejuang

1 Agustus 1947
Ketika takbir mengalun syahdu
Tepat dihari raya Idul Fitri
Garuda merah tak patah arang
Segera merapat mengumpulkan siasat
Hendak menyerang meski pulang tinggal nama
Meninggalkan kasih tercinta tapi lagi cintalah
Ia pada tanah air

Pertempuran tak bisa terelakan
“ Pistol ditangan bukanlah untuk menembak
Belanda tapi untuk menembak betissiapa yang berani mundur tanpa komando”.
Begitulah Sang Mayor memompa semagat pasukan.

Kini ranah telah terduduki kembali
Kompeni dipukul mundur
Meski hanya dengan bersenjata bambu runcing
Pembungkas semangat juang di ranah lain
Sebab serangan balas sudah Berjaya

Tugu ini sebagai pertanda
Bahwa kita lahir dari sejarah
Sebagai bukti sejarah leluruh amat berat
Bahwasanya harus menjaga amanat

Prabumulih, 27 Januari 2018
Oryza Ecsi
 

Rindang
Terpatahlah dahan-dahan
Dari cabang-cabang renjana
Sebab kisah telah ternodai dusta
Berkalang tanah adalah pilihan
Lalu batin mengelak
Bahwasannya dahan gecar
Telah menumbuhkan cabang baru
Ia malah tumbuh dengan rindang rimbun
Daunnya meninggalkan tangkai untuk kembali memupuk batang

Oryza Ecsi
Prabumulih, 17112017

Tangis histeris
Senjata doa takbir
Gaza berkabut

Kita saudara
Habis darah mengucur
Menjaga aqsa

Jalin ukhuwah
Basmi zionis Gaza
Allahu akbar

Prabumulih, 25 Januari 2018
(Kumpulan  Haiku untuk Gaza)
Oleh Ecsi Yunita










Pergi ke kebun memetik kacang
Kacang dipetik untuk ditumis
Begini nasib hidup melajang
Malam minggu serasa kamis

Kacang dipetik untuk ditumis
Mengiris bumbu pakai parang
Malam terkenang kakak berkumis
Tapi sayang suami orang

Mengiris bumbu pakai parang
Bumbu diiris kasar – kasar
Janganlah pula mandi jarang
Kalaulah datang bujang tersasar

Bumbu diiiris kasar – kasar
Untuk campuran buat bakwan
Asal punya harapan  besar
Pasti datang seorang ikhwan

(kumpulan puisi lama : seloka)
Prabumulih, 26 Januari 2018


Komunitas
Oleh Ecsi Yunita

Komunitas adalah berkumpul
Mengumpulkan semua jadi Satu
Menyatukan semua yang berserakan
Menyerakan setiap pikiran dan tindakan

Kadang ada yang datang lalu berlalu
Kadang pula yang tinggal tak ada gerakan
Kadang ada yang mendorong maju
Kadang ada juga yang menarik mundur

Ada yang lantang bersuara
Ada juga yang diam lalu bertindak
Ada yang kaya khayalan
Ada yang pelit berbuat
Itulah peran mereka masingmasing

Tak selamanya kepala jadi kepala
Kadang kaki jadi kepala
Kepala jadi tangan
Tangan jadi hati
Tak apa mereka patutmerasakan jadi yang lain

Sebenarnya ada yang paling dibutuhkan
KEPEDULIAN
Ya, peduli
Sudah pedulika engkau  dengan komunitasmu ?
Coba tanyakan itu dalam  hatimu !

Prabumulih,28 Januari 2018

Penulis: Oryza Ecsi
Div. Bisnis dan Usaha FLP Prabumulih
foto: Skyscraper City



Tidak ada komentar:

Posting Komentar