Selasa, 20 Februari 2018

Dermaga Dua Cinta




“Mungkin suatu saat nanti aku akan kembali, untuk melamarmu.”  hanya kata-kata itu yang bisa menghidupkannya hingga sampai sekarang ini, kata-kata itu yang bisa menyegarkan kehidupan gadis lanjut usia bernama Nirmala itu usianya kini 29 tahun sebuah usia sudah bisa diberi gelar gadis tua untuk ukuran orang desa, bukan ukuran orang kota meskipun usia sudah terlampau lanjut mereka belum memikirkan kehidupan dibalik indahnya pernikahan, katanya masih mau menikmati indahnya pacaran atau masih  ingin  menikmati  masa lajang.

Bukan sedikit para pria datang untuk melamarnya. Tapi, kenapa mulutnya begitu lancar untuk menyatakan menolak. apa lagi ketika ia teringat kata-kata itu, Nirmala sangat cepat mengambil keputusan. Menolak. Setiap lamaran yang datang padanya. 

“Mala kenapa kamu tidak menerima saja lamaran Ridwan” Suara Bu Rakitem si pemilik warung kopi, membuyarkan konsentrasi Nirmala saat mengaduk-ngaduk kopi pesanan nelayan.

“ Bu aku sama sekali tidak  menyukai, Ridwan.”  jawaban itu lah yang selalu dipegangnya saat Bu Ratikem membahas masalah lamaran,  tidak menyukai, belum saatnya, sepertinya tidak pantas  dan lain-lain.

“Mala, cinta itu akan tumbuh setelah pernikahan nanti, dan itu lah cinta suci.” Jelas Bu Rakitem.

“Justru itu Bu, Mala tak ingin menodai sucinya cinta karena keterpaksaan Mala menikah dengan Ridwan yang sebenarnya rasa cinta itu tidak ada dihatiku.”

“Ya, sudah itu keputusanmu.Tapi, ingat usiamu Mala!”

Usia menjadi momok yang sangat menakutkan Nirmala saat ini, cibiran warga desa selalu  menjelma menjadi suara menimbulkan tangisan di dalam hatinya, perih memang mengingat usia yang tak muda lagi, apakah cintanya sudah kering untuk seorang lelaki setampan dan sekaya Ridwan, seorang kestria cinta, tak pernah  putus asa untuk selalu memburu cinta yang bersemayam dihati Nirmala. Dalam bayangannya belum ada laki-laki yang bisa mengisi kekosongan hatinya.

* * *
Diujung pantai berpasir putih ingatan mencoba mengodanya untuk menari disana, saat Juanda masih erat didekatnya, saat pohon  cinta itu tumbuh melesat hingga menumbuhkan lagi ranting-ranting cinta, bertunas, mengakar, akarnya pun sanggup masuk ketanah dalam sekali hingga susah untuk dicabut dan juga tunas mudanya tumbuh begitu cepat ditambah air-air hujan penuh cinta berjatuhan dari gumpalan awan yang rindu kasih sayang dan setelah itu tunas muda  sebanyak mungkin memendung air hujan dibatang pohon belum lagi akarnya menyerap air kasih sayang dari dalam tanah gempur dan subur, mungkin kemarau yang mampu meretakkan tanah tak sanggup untuk mengusik pohon cinta itu,  tak pernah putus berregenerasi cinta pada dirinya.

Itu yang menjadi pedomananya untuk memperkokoh rasa cintanya meski sudah tujuh tahun lamanya Juanda pergi, mencari penghidupan lebih baik agar setara derajatnya dengan orang tua Nirmala yang begitu terpandang dikampung nelayan. Lalu kembali dengan keadaan berubah kemajuan dan melamar Nirmala itulah janjinya sebelum Juanda meninggalkan Mala, kampung halaman dan cinta.

Suara kapal api itu. Nirmala berlari kencang menuju dermaga warung kopi ia tinggalkan rasa rindu yang berat memaksanya berbuat seperti ini, entah hanya Juanda yang ada dipikirannya, melayang di pelabuhan. Matanya terbayang sosok Juanda laki-laki berkulit sawo matang itu turun dari kapal api lalu tersenyum melirik Mala yang telah lama menanti senyum, sumeringah dan mata bening berbinar-binar menjadi respon pertama Nirmala ah itu hanya halusinasi, nafasnya tersengal-sengal detak jantug terus memompa.ia terhenti, sembari merapikan kerudungnya yang berantakan saat berlari tadi matanya menelisik setiap orang yang turun dari kapal. Cukup lama. Hampir sebagian penumpang sudah turun namun matanya belum menangkap sosok Juanda, kepasrahan membaluti dirinya besok pagi kapal itu pergi dan akan kembali setengah bulan lalu.

Dalam larutan kopi hitam pahit Mala menaburinya dengan  beberapa butiran gula pasir agar ada rasa manis ditengah pahitnya walau sedikit, sedikit pahit mencampur didalam rasanya. Kopi hitam pahit begitu kental, sekental rasa cintanya dan seencer kopinya untuk Ridwan. 

* * *
Setenggah bulan sudah bertiup, Tiupan asap menggepul dari cerobong hitam kapal itu. Suaranya mampu  mengugah Nirmala dari keputus asaan, dari penantian. Dalam detak membara dan sayap-sayap cinta mampu membawanya terbang melayang menembus awan putih dan membelah birunya langit dan dalam kegetiran hidup ditenggah pahitnya kopi, lagi-lagi warung kopi  menjadi korban keganasan cinta yang sudah stadium empat itu. Langkah kakinya begitu ringan dan lincah membawanya melawan arus perjalanan dimana sebagian penumpang sudah berhamburan keluar kapal, masih dalam penantian gerik matanya cantik dan lincah dibawah kerudung merah menelisik setiap lelaki yang turun dari kapal, masih dalam penantian hatinya menjelma bak anak ayam mencari induk, berciap tak ada hentinya.

“Mala...” tiba-tiba suara laki-laki sangat lembut menyapa Nirmala  dari belakang, suara lembut itu sapaan itu. Sungguh mampu menumbuhkan bunga yang sempat mati kekeringan didalam hati Mala, matanya bening, senyumnya sumeringah, wajahnya seperti bernyawa mungkin inikah dia. pikir Nirmala, dalam detik bertiup ia membalikkan badan.

“Maaf Nirmalakan, anaknya Pak Zainal orang terpandang di kampung nelayan?” tanya pemuda it.

“Iya.” jawab Mala sedikit lemas

“Aku Nizam, aku hanya ingin memberikan titipan surat dari Ju, untukmu.” jelas lelaki berpakaian lengkap khas melayu, lumayan tampan.

“Oh, iya terima kasih.” timpal Nirmala, ada keruntuhan dalam dirinya, ada keretakan dihatinya, ada kegoyahan dalam jiwanya, dan yang pasti dalam penantiannya kali ini tidak merasa tersia-siakan. Surat. Batinnya gembira.

Dibawah terang bulan, dibawah jendela rumah.
Assalamualaikum, dik Mala. Maafkan Kanda sudah lama kita berpisah baru kali ini Kanda bisa mengirim kabar melalui surat yang Dik Mala baca sekarang. Oh ya. Apa kabar Dik Mala, Abah dan juga Ummi, Kanda hanya bisa mendo’akan semoga Allah selalu melimpahkan kesehatan kepada Dik Mala sekeluarga. Dik Mala apakah masih ada secuil rasa didalam hati Adik? Apakah adik masih sendiri, ataukah sudah ada kestria pilihan Abah dan Ummi yang selalu mendampingi hidupmu. Kalau Dik Mala masih sendiri apa yang sedang Adik rasakan saat ini, rindukah? Kalau adik merasakan rindu cobalah adik memandangi bulan malam ini dan bayangkan ada wajah kanda sedang tersenyum pada adik, jika dik Mala sedang senang cobalah mengirimkannya melalui angin pantai, dan jika adik sedang duka cobalah berbagi lewat hati mudah-mudahan apa yang adik rasakan akan dapat Kanda rasakan juga, walau jarak kita dibatasi lautan. Tapi, tak bisa menghalangi rasa Kanda pada Dik Mala. Dik Mala dalam kejauhan Kanda selalu merindukan masa kita dulu, berlari hingga tertawa, bermain-main dengan ombak pantai dan ingatkah Dik Mala pada Dermaga itu, Dermaga terciptanya sejarah kita Dan Dermaga itu menjadi saksi saat Kanda harus menentukan pilihan dan Dik Mala lah yang menjadi pilihan Kanda, Dik Mala teguhlah dalam sebuah penantian, Kanda akan usahakan secepatnya pulang dan menghadap Abah dan Ummimu, Wassalamualaikum
Kanda Ju

Nirmala telah senyum getir, ia merebahkan tubuhnya di pembaringan sembari mendekap selembar surat. Sungguh kehidupan yang baru tercipta dalam dirinya, sebuah kehidupan penuh gairah dan semangat membara, Mala beranjak dari pembaringan diambilnya bulpen dan selembar kertas.

Wa’alaikumsalam, Kanda Ju, tak apalah Kanda selembar surat yang kanda kirim ini sudah cukup bagi Adinda sebagai penawar rindu begitu dalam ini. Alhamdulilah Adinda, Abah serta Ummi baik-baik saja. Kanda sendiri apa kabarnya, semoga Allah selalu melindungi Kanda di tanah perantauan, tentu bukan secuil rasa dihati Adinda untuk Kanda. Adinda masih sendiri dan tidak ada kestria yang bisa mengantikan Kanda meskipun pilihan Abah dan Ummi, tentu kanda sudah tujuh tahun kita berpisah rasa rindu ini begitu menjadi-jadi di kalbu, Kanda juga kalau Kanda sedang Senang cobalah untuk mengirimkannya melalui  ombak laut, dan jika sedang sedih maka kirimkanlah lewat rumput-rumput yang ditendang badai biarlah ia mengirimkan diatas ketidak berdayaannya. Apa yang kanda rasakan Adinda juga akan ikut merasakan, tentu Adinda tidak melupakan dermaga itu, dan Adinda menginginkan Dermaga itulah yang akan mempertemukan dan menyatukan kita kembali, sebagaimana dulu. Cepat pulang Kanda, adinda akan setia dalam penantian dan selalu menantikan ikatan yang halal darimu, Wassalamualaikum
Adinda Mala

Dan mulai saat itu, setiap tiga bulan sekali Mala selalu menunggu Nizam untuk menerima surat dari Juanda. Begitupun sebaliknya melalu Nizam ia mengirimkan surat balasan, sungguh harapan baru bermunculan sungguh masa yang tak ingin  dilupakannya, pohon cintanya kini tumbuh dengan besar dan menjadi pohon cinta raksasa yang dengan suburnya tumbuh dihatinya, tunas itu sudah berubah ranting dan ranting itu menumbuhkan tunas baru daun-daun baru, sungguh kisah yang mengelokkan, menciptakan  sanubari terundah, biarlah cinta tumbuh dengan sendirinya beserta pupuk ketulusan selalu membahana dihati, namun biarlah air mengalir  begitu syahdu menyerebak kerjenihan cinta tanpa adanya lumpur dosa yang hinggap ditepi-tepi kalbu, Nirmala sungguh tak ingin semuanya berlalu begitu saja.
* * *
Di warung kopi dekat pelabuhan, Nirmala bekerja disana pula tempat ia menunggu kehadiran Juanda  pulang dan akan menemuinya. Sudah hampir tiga tahun sepucuk surat dari Juanda tak ia dapat lagi sungguh ini hanya bisa membuat rasa kekhawatiran dan ketakutan yang teramat bagi Mala, meski ia tahu betapa sulit untuk bisa menerima semua ini. Kegusaran hidupnya ditambah lagi oleh Abah dan Umminya yang menginginkan dirinya untuk segera menikah tanpa harus menunggu kedatangan Juanda yang tak jelas kapan kehadiran, dari awal Abah dan Ummi Nirmala memang tak mensetujui hubungannya dengan Juanda karena Juanda bukan derajat sepadan dengan keluarga Zainal yang memiliki kekayaan berlimpah ditanah melayu. Tapi, cinta memang begitu rumit, sampai-sampai Mala rela meninggalkan kehidupan yang layak bersama keluarga dan rela bekerja di warung kopi demi lelaki tak jelas, masa depannya pun sulit diterawang. Lalu Nizam orang yang sering menjadi burung merpati untuk Nirmala dan Juanda tak ada kabar tentangnya, bahkan Nizam tak terlihat dirumahnya setiap tiga bulan sekali waktu pulang dari tanah rantauan. Kini rasa itu entah telah kemana, rasa itu lenyap di timbun bumi untuk mengalinya lagi pun sangat sulit.

Malam. Sulit rasanya memejamkan mata Abah dan Ummi benar-benar sangat mendesak. Ridwan akhirnya timbul dalam pikiran mungkin inilah pilihan yang tepat untuknya disaat lelaki itu tak kunjung kembali, dan disaat ada lelaki  masih menanti, soal  cinta biarlah waktu yang akan mengajarkan rasanya mencintai bukan dicintai

Pagi, warung kopi Bu Rakitem baru buka.

“Mala, ada undangan buatmu diatas meja” Teriak Bu Rakitem dari belakang. Mala begitu  kaget ketika melihat undangan  berukir nama   “Nisa & Ridwan” (*)

Fahry Alamsyah
Prabumulih, 2 Oktober 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar