Kamis, 25 Januari 2018

Puisi: Waktu

Tertikam Detik

Berlalu pasti,
Merayap menghabisi,
Duka duniawi

Terasa bilamana kita  bersama,
Habiskan masa hanya berdua,
Di tepi pantai yang penuh pesona

Hentikan!
Tolong hentikan!!
Kutatap jarum yang berdetak
Terus melaju, mengabaikan...

Biarkan aku mati,
Bersamamu,
Dalam waktu yang tak mau mengerti,
Bila aku tak ingin kau pergi

Marsela Angels
Prabumulih, 20 Januari 2018

=========

YANG TAK TERDUGA
Oleh : Susi.ks

Semua tertawa dalam canda kebersamaan
Lepas bebas tak ada beban yang membayang

Seakan semua larut dalam euforia pesta gemerlap
Tak terbersit bila semua hanya fana belaka

Lalu semua seketika usai
Dan maut datang tanpa permisi
Tawa pun berganti derai tangis memilukan

Tragis saat malaikat maut menjemput tanpa taubat mengiring langkah

Siapa yang salah!
Mampukah kit menghalau kedatangannya?
Ternyata...tlah tiba saatnya kita kembali pada yang Kekal

Semua gemerlap kemewahan tertinggal, singgasana tak lagi bertuan
Hanya kain kafan pembalut raga
Membaur dalam pekatnya nisan berteman cacing-cacing tanah

Prabumulih, 20 Januari 2018
Senja Dalam Renungan

===========

Tentang Waktu yang Menyemesta Tunggu

Oleh: Rinjani

pada pinggiran sungai, aku membaca rindu yang halai-balai. sajak-sajak masai di antara mendung yang tiba-tiba landai. seperti cuaca yang kerap kali menggelapkan alam, aku menyebut namamu dalam tiap senyap juga diam.
.
kalimat-kalimat telah sedemikian jauh dari tenggat, hingga tersisa sebuah kata yang kupegang erat. padanya, kuletakkan seluruh percaya, segenap yang tersentuh jiwa, hingga yang tak terjamah mata. menulisi tubuhku dengan huruf-huruf lama berisi doa, sampai penuh tiap-tiap mantra.
.
ah, akulah yang khusyuk memintal namamu dalam pinta-pinta di malam sepertiga. hingga lebur aku dalam genang danau bercahaya kemilau dari netra. bertaburan harap. jatuhlah embun dari katup aksa, menetes, jatuh di atas kain panjang tempatku bersimpuh. lalu ke tanah, ke sungai, ke laut: muara yang menguapkan semesta isyarat hingga menyentuh langit tanpa sekarat.
.
"ah, renjana ...
pada rasa yang patri di hati
biar segala luka ini kubawa berlari
hingga hilang seluruh nyeri
dan menemu bahagia di ujung nanti."
.
di bawah nabastala, 20-01-2018

Tidak ada komentar:

Posting Komentar