Sabtu, 13 Januari 2018

PELECEHAN ISLAM, GENERASI MUDA, DAN TALENTA



FLP PRABUMULIH.OR.ID, Beberapa hari lalu saya ditelpon pemilik resto dan cafe terkenal di kota saya. Menawarkan untuk saya dkk bisa mengisi standup comedy di resto miliknya. Tapi, saya belum ada waktu yang tepat untuk memenuhinya dan juga belum sempat mengkonfirmasinya. Bukan karena apa-apa atau karena yang viral belakangan ini.

Ya, hari ini saya membaca beberapa postingan yang lagi heboh terkait Joshua & Gee Pamungkas komika cukup ternama di negeri ini. Yang nama pertama malah lebih dulu terkenal dengan "diobok-oboknya". Tapi mereka berdua viral karena negatifnya terutama bacotnya yang menghina Islam.

Saya tak habis pikir, kejadian seperti ini selalu berulang-ulang, ingat dulu Ernest trus Uus kan? Sepertinya permusuhan kita memang tak bisa berakhir dengan terus menebar ranjau saling benci. Seperti tak ada celah rekonsiliasi antara minoritas dan mayoritas. Dan generasi-generasi kita menonton festival ini terus, lalu tertanam pula fikiran serupa dan terprovokasi. Mekanisme pengulangan akan terjadi, karena systemnya sudah terbentuk. 

Kalau sudah begini, siapa yang dirugikan? Kembali lagi umat islam yang mayoritas. Walau sebenarnya mayoritas umat islam ini yang tidak islami. Saya kasih contoh : Lihat saja dalam ajang penganugerahan (award) di tv, saya selalu memperhatikan satu per satu bila ada sang pemenang yang naik panggung non muslim. Ia pasti bangga dan tak luput menyebut, mengagungkan agamanya atau Tuhannya.

Sebaliknya bila yang naik panggung seorang muslim, belum tentu, bahkan hampir jarang yang bangga pada agamanya. Itu bisa dilihat dari paragraf pertama kalimat yang ia ucapkan. Memang ada yang ingat, namun banyaklah yang lupa, iya kan?

Bahwa benar agar islam tidak dilecehkan, kita harus tuntut sesuai hukum yang berlaku. Tapi kita jangan sampai melupakan esensi sebenarnya. Kita jangan hanya terpana, kesal semu lalu menggerutu bahkan sampai membenci pelaku. Namun, kita melupakan tindakan konstruktif yang sejatinya bisa kita lakukan.

Masa-masa sekarang ini, ajaran islam betul-betul diusahakan oleh musuh islam sejauh-jauhnya. Kalau bisa generasi islam mendatang cukup hanya mengenal ajaran Islam dari stigma yang dibangun mereka. Yaitu teroris, ekstrimis, kuno tak beradab dan referensi keji lainnya.

Daripada kita hanya sibuk menghabiskan waktu hidup untuk ikut heboh di dalam skenario mereka. Lebih baik kita habiskan waktu untuk terus mengasah talenta kita serta menjadikannya prestasi serta karya terbaik hingga membawa maru'ah islam pada tataran tertinggi. Kita habiskan waktu untuk mengislamkan yang mayoritas islam tadi. Dengan apa saja yang kita bisa lakukan saat ini.

Yang ingin jadi komika, jadilah komika yang membawa norma-norma positif, sampaikan kebaikan dengan hiburan yang berisi. Tidak perlu mundur, lantaran sebagian besar komika alirannya terbalik dengan kita. Cari dan warnai teman-teman agar sevisi.

Anak muda yang ingin jadi atlet, olahragawan jadilah yang berprestasi. Asahlah kemampuan sebaik-baiknya, ketika sampai dipuncak podium dan meraih mendali emas, kabarkan pada mereka bahwa kau seorang muslim sejati. 

Begitu pula bila kau ingin jadi penulis, buatlah tulisan dan buku-buku terbaik. Berkaryalah selagi hidup ini dengan karya terbaikmu dan kelak bila kau dikenal banyak orang, pengaruhmu sudah begitu besar, maka ajarkanlah, sampaikanlah bahwa kau seorang muslim yang taat, jangan malu, kau harus bangga dengan keislamanmu.

Anak-anak muda yang suka buat film pendek, vlog, blog, animasi, aplikasi, games dan sebagainya berkaryalah dengan karya terbaik. Ketika kelak mayoritas termasuk yang minoritas menepuk pundakmu dan bangga kepadamu, lalu sampaikanlah kebaikan ajaran agamamu dan kau bersyukur menjadi muslim.

Bila kita pebisnis, kembangkanlah jangan pernah berhenti dan menyerah, niatkanlah bisnismu bukan sekedar tuk mengalahkan sesuatu. Tapi karena memang ingin membantu dan memberi solusi kepada semua lapisan masyarakat, semua tanpa kecuali non muslim sekalipun. Ketika kita sudah mendapatkan hati mayoritas, maka kemenangan besar sudah dalam gengaman. Karena seperti itulah dulu mereka merebut semuanya dari kita.

Dari sekarang kita didik anak-anak kita, adik-adik kita, orang terdekat kita untuk mempelajari islam lebih dalam. Untuk mengkaji bukan sekadar mengaji. Sudahilah perdebatan dan perselisihan ummat saat ini, jangan dijadikan sarana menghujat tanpa berbuat. Karena itu akan menambah citra dan alergi orang-orang islam yang awam. 

Buatlah kesan islami yang menyenangkan dalam pergaulan sehari-hari kita. Kesan islam ramah, murah senyum, santun, rajin bersedekah dan akhlak-akhlak lainnya yang kita pelajari dalam qur'an dan sunnah selama ini. Jadilah muslim yang berkualitas dipelbagai bidang, lalu membanggakan islam itu sendiri. Dengan begitu musuh-musuh islam selama ini hanya berhasil dalam rencana saja, tidak pada tujuan akhir. Tak apa sekarang "diobok-obok airnya" asal generasi kelak mengalirkan kebaikkan ke berbagai penjuru dunia. Karena memang islam adalah rahmat bagi semesta alam. Wallahu'alam bishawab.


Fajar Kustiawan
Penulis, Ketua Forum Lingkar Pena Wilayah Sumsel

Tidak ada komentar:

Posting Komentar