Minggu, 14 Januari 2018

Manusia Tiga Wajah

“Manusia tiga wajah!...manusia tiga wajah!” Teriak lelaki itu, berlari-lari mengikari kampung yang berada di barat kota kecamatan dan sebelah barat pegunungan hijau. Semua warga lainnya ikut berteriak, ketakutan, setiap warga  langsung menuju kerumah masing tanpa terkecuali, bapak-bapak dengan bergegas mengambil dan memasukkan hewan ternaknya kedalam kampung, para ibu-ibunya tak tinggal diam mereka memangil anak-anak mereka untuk masuk kedalam rumah, suasana desa mencekam.

“Manusia berwajah tiga! Manusia berwajah tiga!” teriak lelaki itu berkali-kali belum berhenti kalau orang-orang kampung tidak di posisi aman.

Aku semakin memperhatikan tindakan mereka, tak mengerti! Atas apa yang mereka lakukan setibanya aku di kampung ini. Dengan tubuh yang tegap aku berdiri di bawah gardu, mengintai setiap langkah-langkah ketakutan yang mereka rasakan.


Braakkk...

Suara lelaki sedikit tua, terhuyung jatuh ke tanah bercampur pasir dan kerikil.  Aku segera bergegas menghampirnya.

“Pak, ada apa ini semua orang ketakutan?” Tanyaku seraya membantunya untuk bangkit.

“Ada manusia berwajah tiga, Mas!” jawab lelaki itu gemetaran. “Sebaiknya Mas cepat cari tempat persembunyian!” lelaki itu kemudian berlari mencari tempat persembunyian. Aku masih diam di tempat.

“Ibu...Ibu!” teriak seorang anak kecil di seberang jalan.

“Nak, ke sini nak, cepat! Nanti ada manusia itu.” Balas teriak seorang ibu di balik pintu rumahnya, anak itu terjebak dalam bahaya pikirku, aku segera berlari ke tempat anak itu berlari dan membawanya ke rumah ibu.

“Maaf bu, ini ada apa! Kenapa semua warga merasa ketakutan?” tanyaku pada ibu itu.
“Ada manusia kejam, Mas! Sebaiknya mas bersembunyi saja.” Jawabnya dan dengan cepat ia menutup pintu itu rapat-rapat. Aku berlari mencari tempat persembunyiaan, aku sebenarnya tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini. Tak lama datanglah sekelompok orang, mereka terdiri dari laki-laki dan wanita, turun dari mobil hitam mengkilat, berkaca mata hitam, berjaket jeans dan kulit.

“Tempat ini sepertinya cocok untuk proyek kita,” ucap seorang lelaki berkumis tebal itu sambil memilin-milin sebatang rokok yang sedang menyala.

“Iya pak, ini tempat cocok untuk mega proyek ini!” kali ini ucap seorang pemuda, tapi melihat dari penampilannya sepertinya ia pemuda dari kampung juga.

“Lalu, bagaimana dengan proses perizinan?”

“Nanti saya akan coba mendekati perangkat desa sini pak, mulai dari keamanan sampai kepala desa.” 

“Kau yakin semua akan mulus.” 

“Kalau ada pulus semua akan mulus, Pak.” ucap pemuda itu samar-samar, lelaki berkumis tebal itu menoleh pada seorang wanita cantik di sampingnya seolah sudah mengerti wanita itu langsung mengeluarkan sesuatu dari dalam tas hitamnya. Pemuda kampung itu sungguh memancarkan wajah sumeringah tatkala menerima sesuatu di bungkus amplop cokelat. 

* * *

Pagi-pagi sekali aku bangun, setelah sholat subuh dan sarapan pagi aku keluar untuk melihat aktivitas orang-orang kampung Kaki Selangit, karena aku adalah mahasiswa  pertama yang hadir disini dari dua belas mahasiswa lainnya yang akan melaksanakan tugas kuliah KKN di kampung ini. Kaki Selangit.  Setelah cukup lama mengitari desa ini, aku merasakan kedamaian dan ketentraman di kampung ini saat pagi, pegunungan hijau terpampang jelas di hadapanku, sungai-sungai dengan air nan jernih mengalir meliuk-liuk mengikuti arus, batu-batu gunung menjadi media gemericik air itu, kicau-kicau burung, suara hewan ternak yang di tarik menuju padang rumput oleh pemiliknya, sawah-sawah nan hijau.

Tapi aku tidak habis pikir dengan kejadian kemarin sore, kenapa warga kampung ini seperti di landa rasa ketakutan yang begitu mengerikan. Apa sebenarnya yang terjadi di kampung ini, adakah bahaya yang akan mengancam mereka. Aku duduk di sebuah pohon raksasa yang sudah tumbang, menghadap pegunungan nan hijau dan jurang yang di bawahnya mengalir sungai ber mata air jernih. Kulihat para ibu-ibu sedang berusah payah menaiki setapak demi setapak anak tangga yang terbuat dari bebatuan itu, dengan beban di punggung mereka dan anak-anak kecil itu tertawa riang melangkahkan kaki-kakinya, aku tersenyum melihat tingkah mereka. 

“Sepertinya kamu orang baru disini?” Aku terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba hadir dari sampingku. Aku menoleh, sebuah pertanyaan dari seorang gadis cantik.
“Oh, iya kenalin aku Raihan.” Jawabku sembari menyodorkan tanganku, tapi hanya di balasnya dengan senyuman dan tangkupan tangan di depan dada.
“Aku Sekar. Aku sudah tau, kamu mahasiswa dari kota provinsikan yang akan mengerjakan tugas dari kampus di kampung ini, diposko kesebelas temanmu sudah datang.” Ucapnya.
“Kamu tahu aku mahasiswa kota provinsi darimana?”

“Abahku kepala desa disini, aku tahu dari beliau kalau akan ada mahasiswa yang akan datang, dan beliau pula yang menyuruh aku mencari kamu pagi ini.” Aku diam, di perjalanan ada sesuatu yang ingin aku tanyakan kepadanya. Tapi, rasanya kenapa lidahku sulit untuk mengucaokan sesuatu, apa karena lantaran kami baru saling mengenal.

* * *

Sudah hampir dua bulan lebih aku dan kesebelas teman mahasiswa berada di kampung ini, demu tugas-tugas, sesekali aku dan kesebelas mahasiswa lainnya masih menyaksikan kejadian yang menakutkan dan penuh tanda tanya atas apa yang di alami oleh warga kampung, belum lama aku kembali menyaksikan apa yang pernah kulihat saat kali pertama aku tiba di kampung Kaki Selangit, begitu mengerikan, teriakkan anak-anak, suara hyteris dari pemuda-pemuda kampung dan ratapan kecemasan dari para ibu-ibu dan lelaki tua.

Minggu pagi, semua orang berkumpul di balai desa untuk sidang desa dengan wacana apa yang warga takuti selama ini, Pak Rahmat selaku kepala desa memimpin persidangan itu. Mataku yang ikut dalam persidangan sesakali mengedarkan pandang ke depan, kehadapan para pimpinan sidang. Pak Rahmat akan segera memulai sidang dan Sekar gadis manis itu datang membawa micropon lalu duduk di samping seorang pemuda, mataku membulat besar saat melihat  pemuda disampingnya itu, pemuda kampung yang pernah aku lihat saat warga ketakutan saat pertama kalinya aku datang ke kampung ini, pemuda yang berdiri diantara orang-orang kota itu. Sepertinya ada yang tidak beres.

Sebulan kemudian di saat masa akhir-akhir kami KKN di kampung Kaki Selangit, warga berduyun-duyun berunjuk rasa di depan kantor kepala desa, mereka tidak setuju atas tindakkan kepala desa yang telah mengambil langkah setidak pengetahuan dan persetujuan dari mereka, warga makin memanas ketika seorang pemuda pembersih kantor kepala desa,  keluar menghadapi warga kampung yang makin beringas.

“Pak kepala desa tidak ada ditempat.” kata pemuda itu.

“Kemana pak kades?” tanya salah seorang warga dengan wajah yang sangat marah.
“Kekota provinsi.” Sebagai pelampiasan kemarahan warga langung menyerbu dan merusak kantor kepala desa, aku yang menyaksikan peristiwa itu berusaha melerai dan menghalangi tindakkan konyol mereka tapi apa daya warga yang sudah tersulut api kemarahan tidak bisa di bendung, yang aku dapatkan malah sebuah hantaman bogem-bogem mentah dari tangan lelaki kampung yang kekar, aku terhuyung di antara pengunjuk rasa itu. 

“Kampung kita dijual, kampung kita dijual!” teriakan itu terdengar samar-samar sebelum tubuhku terhempas ketanah.

* * *

Dua tahun lebih rasa rindu di kampung Kaki Selangit tak terbendung lagi, dan hari ini aku memutuskan untuk kembali kekampung ini, aku tak perduli walaupun aku memilik catatan pilu di akhir-akhir masaku disini. Tapi ternyata desa Kaki Selangit sudah berubah, tak lagi kutemui rumah-rumah sederhana yang berdinding dari anyaman bambu dan kayu disni, tak lagi kulihat ibu-ibu dengan beban di pungung dan tawa riang anak-anak saat menapakkan kakinya selangkah demi selangkah menaiki anak tangga berbatuan, tak lagi hidungku menghirup udara segar, rumah-rumah dan Villa mewah berjejer mengisi lahan di pinggir jalan utama, selang-selang besar itu menjulang ke sungai menyalurkan limbah-limbah perumahan, sungai tercemar, lingkungannya menjadi gersang, suasana pegunungan tak dapat lagi kunikmati dengan ketenangan, semua habis diraup oleh pengusaha  property. (*)

                                                                                               Prabumulih, Akhir Agustus 2013


*cerpen ini juara sayembara cerpen silampari, Lubuklinggau, 2013.


Fahry Alamsyah,
Cerpenis kelahiran Prabumulih, 
berprofesi tukang sampah 
sekaligus menjabat sebagai 
ketua FLP Prabumulih. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar